Sejak saat itu jadi keranjingan laut meskipun sia-sia menghadirkan perasaan yang sama, seringkali hanya diam menatap horizon sementara hati gue menyelinap keluar celingukan, gelisah dan hilir mudik menendang ombak.
Waktu oh, Waktu, dibiarkannya kami saling menyentuh dan seperti biasa dia menjadi rakit yang mengalun menjauh riang sementara kaki gue terlanjur menjejak pasir, tangan gue yang telah mendorong hanya mampu lalu melambai...
I hate goodbyes.
Tak perlu menyesal pernah memiliki.
Meskipun laut tak terasa sama lagi.
Sunday, May 10, 2009
Tuesday, January 27, 2009
Sawarna, Banten (24-26 Januari 2009)







Gak banyak waktu buat ngobrol-ngobrol sama penduduk dan menyelami idup mereka kayak gimana soalnya banyak lanskap indah buat dijelajahi dan butuh istirahat cukup biar besoknya bisa keliling-keliling lagi.
Sembilan orang semuanya: Keng, gue, Fariza, Tony, Amel, Meta, Arif, Purwo, dan Mame sebagai leader of the pack, halah.
Meskipun gak ada foto gue yang ditampilkan secara entah kenapa gue selalu grogi di depan kamera (gak ngerti ngapain senyum atau bergaya di depan lensa) lalu ogah diem atau membuat mimik-mimik yang nggak banget hingga akhirnya foto-foto gue 99% gak layak pampang, inilah sebagian kecil dari koleksi yang sempet gue kecilin biar bisa masuk ke sini. O, pleaseeee...
Friday, January 23, 2009
Love That's Yet To Come
Kemarin.
Udah gak bener sejak bangun pagi yaitu siang hari.
Rokok yang gak enak diisep.
Mulut yang males memamah.
Sore-sore bertiga berbagi.
Lena yang sakit itu lagi.
Dan berjalan dengan kaki ayam.
Tertawa dan tertawan.
(Seorang bocah lelaki belasan tahun menari
brengseknya, dengan sangat seksi.
Berkeringat dan mangap.
Mata gue melahapnya.
Merasa tua busuk dan tak berdaya.
Siapa elu, hei, Bocah?
Dia menatap balik dan berpuas diri.
Menatap gue lagi berkali-kali.
Masih berkeringat dan mangap plus mengerti.
Gue berbalik pergi. Banyak urusan. Hei.
"Tanpa seksi, gue juga bisa mangap dan keringetan.")
Malam tiba bersandar.
Teh botol. Rokok. Sedikit narsis dan obrolan porno.
Di tangga-tangga mendengar dia berbisik-bisik.
Mengajak pulang.

Dan seterusnya.
Dan seterusnya.
Udah gak bener sejak bangun pagi yaitu siang hari.
Rokok yang gak enak diisep.
Mulut yang males memamah.
Sore-sore bertiga berbagi.
Lena yang sakit itu lagi.
Dan berjalan dengan kaki ayam.
Tertawa dan tertawan.
(Seorang bocah lelaki belasan tahun menari
brengseknya, dengan sangat seksi.
Berkeringat dan mangap.
Mata gue melahapnya.
Merasa tua busuk dan tak berdaya.
Siapa elu, hei, Bocah?
Dia menatap balik dan berpuas diri.
Menatap gue lagi berkali-kali.
Masih berkeringat dan mangap plus mengerti.
Gue berbalik pergi. Banyak urusan. Hei.
"Tanpa seksi, gue juga bisa mangap dan keringetan.")
Malam tiba bersandar.
Teh botol. Rokok. Sedikit narsis dan obrolan porno.
Di tangga-tangga mendengar dia berbisik-bisik.
Mengajak pulang.

Dan seterusnya.
Dan seterusnya.
Tuesday, January 13, 2009
Mine
Bahkan laki-laki pun melirik cermin, kaca jendela, kaca mobil, atau kaca rumah yang dilewatinya karena seperti halnya ada Helena pada setiap perempuan, pada diri setiap kita ada Narcissus yang kangen melihat bayangan wajahnya sendiri pada permukaan yang bening.
Alkisah gue menindasnya lama sekali dengan seluruh kuasa yang gue miliki, menghinanya begitu bengis sehingga telah begitu debu dia, mengecilkan diri lantaran jeri dan hanya ingin kecil tak berarti biar gue gak sanggup menemukan untuk meniadakannya lagi.
Tapi cuma gue yang bole memperlakukannya begitu.
Lu nggak.
Kenapa? Dogolly you asked me.
Ah elu. Dia kan ta*k anj*ng gue.
Alkisah gue menindasnya lama sekali dengan seluruh kuasa yang gue miliki, menghinanya begitu bengis sehingga telah begitu debu dia, mengecilkan diri lantaran jeri dan hanya ingin kecil tak berarti biar gue gak sanggup menemukan untuk meniadakannya lagi.
Tapi cuma gue yang bole memperlakukannya begitu.
Lu nggak.
Kenapa? Dogolly you asked me.
Ah elu. Dia kan ta*k anj*ng gue.
Tuesday, January 06, 2009
Subscribe to:
Posts (Atom)
